TVRINews, Semarang
Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya menjadi program baru pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kedua program tersebut merupakan bagian dari paradigma baru dalam pembangunan nasional.
Pernyataan itu disampaikan Budiman saat menghadiri dialog bertema "Kritis Menuju Indonesia Emas atau Cemas? Membaca Kinerja Pemerintah dan Arah Masa Depan Indonesia" di Gedung Art Galeri Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.
Budiman mengatakan, program-program tersebut harus dipahami sebagai bagian dari perubahan cara negara mengelola pembangunan, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menciptakan nilai tambah dari kekayaan alam Indonesia.

(Foto: Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko)
"Oh, salah kalau orang menganggap Bapak Prabowo, pemerintahan baru hanya sekadar bawa program baru. Seolah-olah MBG hanya sekadar program baru, Koperasi Rakyat program baru. Ya, betul mereka program baru, tapi sebenarnya program yang disebut baru itu harus diletakkan dalam rangka paradigma baru. Cara Pak Prabowo mengelola negara yang sudah lama dilupakan bangsa Indonesia," kata Budiman, Jumat, 12 Juni 2026.
Menurut Budiman, selama ini Indonesia lebih banyak mengandalkan perdagangan dan ekspor bahan mentah. Sementara itu, industrialisasi yang berkembang dinilai masih sebatas menjadi perakit dalam rantai pasok global.
"Selama ini, terutama setelah reformasi, Indonesia kan hanya sekadar trading. Ekspor bahan mentah, kemudian industrialisasi pun bukan menciptakan, tapi hanya sekadar menjadi perakit, relokasi industri. Seolah-olah kita ini dalam global supply chain, pembagian kerja secara global, bagian Indonesia itu bagian macul, bagian menggali, bagian menebang," ujarnya.
Ia menjelaskan, paradigma tersebut ingin diubah dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kekayaan alam tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak didukung sumber daya manusia yang unggul.
"Enggak, Pak Prabowo mengatakan, enggak loh. Kelapa ini harus jadi sesuatu dulu baru dijual. Sumber daya alam ini kalau kita enggak punya ahlinya, orang enggak mau beli, ya sudah, simpan aja di Indonesia dulu. Pinterkan dulu rakyatnya. Perbaiki gizinya, ratakan pendidikannya," tutur Budiman.
Dalam kesempatan itu, Budiman juga menceritakan kunjungannya ke Sekolah Rakyat di Cibinong. Ia menilai fasilitas yang tersedia mencerminkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
"Saya kemarin barusan dari Cibinong ke Sekolah Rakyat. Ada anaknya tukang becak, ada anaknya pemulung, ada empat tahun putus sekolah, tiba-tiba mereka sekarang sekolah, asramanya bagus, makanannya rapi, ada lapangan futsalnya, ya. Ini kan luar biasa. Orang-orang miskin di Indonesia ini, hari ini, anaknya orang miskin dimuliakan," katanya.
Budiman bahkan membandingkan fasilitas Sekolah Rakyat dengan pengalaman anaknya saat menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama.
"Anak saya bilang, 'SMP-mu ini lebih keren dari SMP saya loh, waktu saya SMP enggak seperti ini fasilitasnya.' Jadi, anaknya orang miskin di era Pak Prabowo ini beruntung banget, kasarannya gitu," pungkasnya.










