TVRINews, Magelang
Harga daging sapi di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, Jawa Tengah, mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut dikeluhkan para pedagang yang harus menghadapi tingginya harga kulakan di tengah pasokan sapi yang terbatas.
Meski aktivitas jual beli di los daging sapi masih berlangsung normal, para pedagang mengaku kenaikan harga saat ini bahkan melampaui harga pada periode Idulfitri lalu. Mereka tetap berupaya menyediakan stok untuk memenuhi kebutuhan pelanggan meskipun harus membeli sapi dengan harga yang lebih tinggi.
Kenaikan harga daging sapi dipicu oleh berkurangnya ketersediaan sapi hidup di tingkat peternak. Di sisi lain, permintaan daging masih tinggi, terutama setelah Iduladha karena banyak masyarakat yang menggelar hajatan dan berbagai acara keluarga.
Untuk menjaga ketersediaan pasokan, sejumlah pedagang terpaksa mencari sapi dari luar daerah, termasuk dari Boyolali, Jawa Tengah, guna mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
Anggota Paguyuban Pedagang Sapi Pasar Rejowinangun, Istiyah, mengatakan tingginya permintaan yang tidak diimbangi dengan ketersediaan stok sapi menjadi penyebab utama kenaikan harga saat ini.
"Untuk kenaikan harga itu karena kelangkaan sapi dan permintaan yang tinggi. Setelah Iduladha banyak masyarakat yang punya hajatan sehingga kebutuhan daging meningkat, sementara stok sapi tidak terlalu banyak. Akibatnya, kami harus membeli dengan harga yang lebih mahal dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi juga," kata Istiyah dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut para pedagang, kenaikan harga juga berdampak pada menurunnya jumlah pembeli rumah tangga. Konsumen yang masih rutin membeli daging sapi saat ini didominasi pelaku usaha kuliner dan masyarakat yang mengadakan hajatan dalam jumlah besar.
Pedagang menilai daya beli masyarakat turut terpengaruh oleh meningkatnya kebutuhan rumah tangga lainnya, termasuk biaya pendidikan dan pendaftaran sekolah anak menjelang tahun ajaran baru.
Istiyah berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menekan harga daging sapi melalui penambahan pasokan, termasuk mempertimbangkan impor sapi guna memenuhi kebutuhan pasar domestik.
"Kalau bisa ya harganya diturunkan dari harga pokoknya, opsi yang kedua ini ya impor sapi, entah dari mana yang penting bisa mencukup kebutuhan dalam negeri, kalau kita hanya mengandalkan di sini saja mungkin akan seperti ini, harga tetap akan naik,"tambahnya.
Ia berharap harga daging sapi dapat kembali stabil pada kisaran Rp125 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram agar daya beli masyarakat kembali meningkat.
Para pedagang juga berharap pemerintah segera melakukan intervensi pasar untuk menjaga kestabilan harga dan pasokan daging sapi. Dengan harga yang lebih terjangkau, mereka optimistis permintaan masyarakat akan kembali meningkat sehingga aktivitas perdagangan dapat berjalan lebih baik.










