TVRINews, Yogyakarta
Sejak dua bulan terakhir, warga Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mulai dilanda krisis air bersih seiring musim kemarau panjang.
Salah satunya terjadi di Dusun Tegalrandu, Desa Tegalarum, Kecamatan Borobudur. Kini, warga mulai merasakan dampaknya. Debit air sumur milik warga mengecil sehingga mereka terpaksa mengandalkan air dari bak penampungan PAMSIMAS yang berjarak sekitar 500 meter dari perkampungan.
Giyo, salah satu warga, mengaku sejak dilanda musim kekeringan, sumber mata air di bak PAMSIMAS tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekitar 400 warga dusun.
Selain mengandalkan air dari bak penampungan PAMSIMAS, Giyo dan warga juga terpaksa mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah maupun relawan.

“Semua itu serba kekeringan. Jadi, daerah sini itu langka air. Stok air hari ini tidak cukup, kekurangan terus,” ujar giyo, Jumat, 18 September 2026.
Lebih lanjut, Giyo mengatakan warga saat ini masih bergantung pada bantuan air bersih.
“Selalu menunggu bantuan. Waktu kemarin ada bantuan dari desa, dari Pak Lurah. Terus beberapa hari ini, dua atau tiga hari macet, dan hari ini baru ada lagi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto, saat melakukan dropping air di Lapangan Randu Alas, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, menyebut bencana kekeringan mulai melanda Kabupaten Magelang sejak awal Agustus lalu.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Magelang, sebanyak 31 desa di 14 kecamatan mengalami krisis air bersih. Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 15 ribu jiwa.
“Di Kabupaten Magelang, melalui BPBD dapat kami informasikan, dampak dari kekeringan itu memang kenyataannya ada. Kita selalu melihat eskalasi per hari, per minggu, per bulan. Bahkan, kita juga sudah mempunyai aplikasi sistem informasi dropping kebutuhan air bersih masyarakat,” jelas Bambang Hermanto.
Lebih lanjut, Bambang menyebut kekeringan saat ini telah berdampak di 14 kecamatan dan 31 desa.
“Kalau tidak salah, per hari ini dampak kekeringan di Kabupaten Magelang itu meliputi di 14 kecamatan, walaupun tidak semua desa di 14 kecamatan itu. 14 kecamatan, 31 desa,” ujarnya.
Bambang optimistis kebutuhan air bersih masyarakat hingga September dan Oktober mendatang masih dapat terpenuhi.
“Intinya, per hari ini kami optimis bahwa kebutuhan air bersih di masyarakat untuk bulan September-Oktober itu insyaallah aman. Mudah-mudahan nanti di awal November sudah turun hujan,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Magelang optimistis anggaran untuk dropping air bersih bagi warga terdampak kekeringan hingga September dan Oktober mendatang masih aman.
Pemerintah juga berharap memasuki November mendatang musim penghujan sudah tiba, sehingga krisis air bersih akibat kemarau panjang dapat segera teratasi.










