TVRINews, Pekalongan
Sebanyak 76 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) meramaikan Festival Bubur Suro Krapyak 2026 di Lapangan Krapyak, Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Tak lagi sekadar menjadi tradisi menyambut Tahun Baru Islam, festival yang memasuki tahun ketujuh ini dikolaborasikan dengan Syariah Festival Ekonomi Tegal (Syafaat) 2026 untuk menggerakkan ekonomi masyarakat melalui bazar UMKM, edukasi keuangan, dan transaksi digital.
Kegiatan yang dibuka Wakil Wali Kota Pekalongan Balqis Diab pada Jumat malam, 10 Juli 2026 itu merupakan hasil kolaborasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, Pemerintah Kota Pekalongan, serta panitia Festival Bubur Suro Kelurahan Krapyak.

Sebanyak 50 stan diisi UMKM binaan BI Tegal, sedangkan 26 stan lainnya ditempati pelaku UMKM dari Kelurahan Krapyak dan wilayah sekitarnya. Kehadiran puluhan pelaku usaha tersebut diharapkan mampu meningkatkan transaksi masyarakat sekaligus memperluas promosi produk lokal.
Festival Budaya Sekaligus Penggerak Ekonomi
Wakil Wali Kota Pekalongan Balqis Diab mengatakan, kolaborasi dengan BI Tegal dan MES membuat Festival Bubur Suro tahun ini memiliki nilai tambah dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
Menurutnya, festival tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga sarana meningkatkan literasi keuangan dan mendorong masyarakat semakin akrab dengan transaksi digital.
"Festival ini sudah memasuki tahun ketujuh. Tahun ini lebih meriah karena berkolaborasi dengan BI Tegal serta Masyarakat Ekonomi Syariah Kota Pekalongan. Tidak hanya menampilkan Bubur Suro, tetapi juga bagaimana masyarakat menjadi lebih melek digital dan memahami literasi keuangan," kata Balqis, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
Ia menilai Festival Bubur Suro memiliki potensi besar untuk terus berkembang sebagai agenda budaya unggulan Kota Pekalongan. Selama ini, Kelurahan Krapyak telah dikenal melalui tradisi Lopis Raksasa dan sentra tenun. Kehadiran Festival Bubur Suro diharapkan semakin memperkuat identitas kawasan sekaligus menjadi penggerak ekonomi warga.
Balqis berharap dukungan Bank Indonesia dan MES dapat terus berlanjut sehingga Festival Bubur Suro mampu berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional.
BI Tegal Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah
Deputi Kepala Perwakilan BI Tegal Seno Indarso mengatakan, sinergi antara Syafaat dan Festival Bubur Suro menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di daerah.
Melalui festival budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung, BI ingin mempertemukan pelaku UMKM, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam satu ruang yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
"Kegiatan ini untuk meningkatkan ekosistem ekonomi syariah, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembelanjaan UMKM, sekaligus melestarikan kebudayaan, khususnya di Kota Pekalongan," kata Seno.
Selain memperluas pemasaran produk UMKM, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi penggunaan transaksi digital serta pengelolaan keuangan bagi pelaku usaha.
BI juga mendorong Pekalongan mengembangkan diri sebagai kota wakaf dan destinasi wisata ramah muslim melalui penguatan fasilitas ibadah, kuliner halal, serta berbagai layanan pendukung wisatawan.
Bubur Suro dari Beras Wakaf Produktif
Salah satu keunikan Festival Bubur Suro tahun ini adalah penggunaan beras hasil Program Wakaf Produktif untuk memasak Bubur Suro yang akan dibagikan kepada masyarakat pada puncak acara, Minggu, 12 Juli 2026.
Dalam rangkaian festival juga dilakukan peluncuran Scan Wakaf sebagai upaya memperkenalkan wakaf produktif kepada masyarakat agar semakin mudah berpartisipasi melalui layanan digital.
Ketua MES Kota Pekalongan Andi Arslan Djunaid menilai Festival Bubur Suro merupakan potensi budaya yang layak dipromosikan lebih luas.
Menurutnya, setiap kegiatan budaya yang mampu mendatangkan banyak pengunjung akan memberikan dampak langsung terhadap geliat UMKM dan ekonomi kreatif.
"Ketika sebuah event didatangi banyak orang, ekonomi kreatif dan UMKM pasti hidup. Ini menjadi pekerjaan bersama, bagaimana event besar di Krapyak bisa dikemas, dipublikasikan, dan di-branding secara nasional," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Syafaat Bubur Suro 2026 Muhammad Iskandar mengatakan, kolaborasi dengan BI Tegal dan MES juga membawa misi meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Ia berharap para pelaku UMKM tidak hanya mampu meningkatkan penjualan, tetapi juga semakin baik dalam mengelola keuangan usahanya.
Festival Bubur Suro 2026 turut dimeriahkan berbagai kegiatan, mulai dari lomba kuliner berbahan tepung beras, lomba mewarnai bertema "Cinta, Bangga, Paham Rupiah", lomba hadroh ibu-ibu, senam jantung sehat, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga lomba burung berkicau.
Mengusung tema "Krupo, Roso lan Dungo", Festival Bubur Suro tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi tradisi tahunan masyarakat Krapyak, tetapi juga berkembang sebagai penggerak ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM, digitalisasi transaksi, dan penguatan ekonomi syariah berbasis budaya.










