TVRINews – Magelang, Jawa Tengah
Memasuki usia satu abad, Pondok Modern Darussalam Gontor tidak cukup hanya mengenang apa yang telah dikerjakan para pendirinya. Tantangan yang lebih besar bagaimana nilai-nilai pendidikan pesantren tetap hidup ketika dunia bergerak semakin cepat dalam arus digitalisasi dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Pesan itu mengemuka dalam pembukaan Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta, Sabtu 5 September 2026. Forum internasional yang berlangsung pada 5–6 September 2026 tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
Ketua MPR Ahmad Muzani dalam pembukaan GIHES 2026 menempatkan pendidikan bukan semata-mata sebagai urusan sekolah, kurikulum, ataupun mendapatkan ijazah. Pendidikan, menurutnya, merupakan investasi jangka panjang dalam membangun peradaban bangsa.

“Pendidikan adalah investasi peradaban bangsa*,” ujar Muzani.
Pandangan tersebut menemukan konteksnya dalam perjalanan Gontor selama seratus tahun terakhir. Pesantren, dalam sejarah Indonesia, bukan hanya tempat berlangsungnya transfer ilmu agama. Dari pesantren tumbuh pendidikan karakter, kepemimpinan, kemandirian, disiplin dan tradisi pengabdian kepada masyarakat.
Dalam konteks itulah Pengasuh Ponpes Islam Al Iman Muhammad Zuhaery menekankan perjalanan satu abad Gontor menjadi penting dibaca, bukan sekadar dirayakan.
“Dari Inovasi Pendiri hingga Melahirkan Tokoh Bangsa” Ujar Muhammad Zuhaery
Zuhaery juga menambahkan Para pendiri Gontor membangun sistem pesantren modern pada zamannya dengan memadukan tradisi kepesantrenan, pendidikan klasikal, penguasaan bahasa asing, pembentukan karakter hingga latihan kepemimpinan dalam kehidupan santri sehari-hari.
Buahnya Tidak Hadir Seketika
Puluhan tahun kemudian, sistem pendidikan tersebut melahirkan alumni yang mengambil peran di berbagai ruang pengabdian: pendidikan, keagamaan, pemerintahan, diplomasi, organisasi masyarakat hingga politik kebangsaan.
Salah satu nama penting ialah KH Idham Chalid, alumni Gontor yang kemudian menjadi salah satu tokoh nasional dan pernah menjabat Ketua MPR periode 1972–1977. Fakta itu sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat melahirkan kader yang berkiprah jauh melampaui pagar pesantren. ([MPR][3])
Karena itu, seratus tahun pertama Gontor dapat dibaca sebagai sebuah proses menanam.
Para pendiri menanam gagasan, membangun sistem dan merawat nilai. Generasi-generasi setelahnya kemudian memanen sebagian hasilnya dalam bentuk manusia-manusia yang hadir dan memberi warna bagi perjalanan bangsa.
Digitalisasi dan AI Menjadi Tantangan Baru Pendidikan
Menurut Muzani, salah satu persoalan penting pendidikan hari ini adalah perubahan besar akibat digitalisasi dan perkembangan AI.
Teknologi telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk ditemukan, kini dapat diakses dalam hitungan detik.
“Kalau pendidikan hanya dipahami sebagai kegiatan memindahkan informasi dari guru kepada murid, teknologi dengan mudah mengambil alih sebagian fungsi tersebut. Tetapi pendidikan tidak berhenti pada informasi” tutup Ketua MPR Ahmad Muzani
Pendidikan untuk Membentuk Manusia
Di sinilah pesantren mempunyai modal penting. Pendidikan berlangsung bukan hanya saat guru berdiri di depan kelas, tetapi melalui kehidupan bersama, disiplin, keteladanan, tanggung jawab, latihan memimpin, belajar melayani dan pengalaman hidup selama 24 jam.
Konsep pendidikan holistik semacam inilah yang menjadi salah satu gagasan utama GIHES 2026. Forum tersebut memang dirancang untuk mempertemukan pemikir, praktisi pendidikan, pengelola pesantren, pembuat kebijakan dan mitra internasional guna membicarakan kontribusi sistem pesantren bagi masa depan pendidikan dunia.
Seratus tahun pertama telah menunjukkan bagaimana sebuah pesantren yang tumbuh dari Ponorogo mampu memberi kontribusi kepada Indonesia. Seratus tahun berikutnya membawa tantangan yang berbeda: bagaimana pengalaman pendidikan tersebut dapat ikut berbicara dalam percakapan pendidikan dunia.
Digitalisasi, AI, perubahan pola belajar, krisis karakter, kompetisi global hingga tuntutan keterampilan masa depan adalah kenyataan yang tidak mungkin dihindari.
Teknologi tidak perlu dimusuhi. Namun pendidikan juga tidak boleh menyerahkan seluruh masa depan manusia kepada teknologi.










