TVRINews, Semarang
Badan Gizi Nasional (BGN) menggandeng perguruan tinggi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui program BGN Goes to Campus. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) disiapkan menjadi agen edukasi gizi di tengah masyarakat.
Program tersebut mulai dijalankan sebagai upaya mengintegrasikan MBG dengan pendekatan akademis dan kolaboratif bersama kampus.
Pelaksana Tugas Ketua Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunawan, mengatakan BGN Goes to Campus menjadi program unggulan yang diharapkan mampu membantu penyelesaian persoalan ilmiah dan kajian teoretis terkait pelaksanaan MBG.

“Ya, jadi memang salah satu program unggulan dari Kedeputian Bidang Promosi dan Kerja Sama adalah bagaimana melibatkan kampus dalam penyelesaian persoalan-persoalan yang tidak bisa kami selesaikan karena bersifat ilmiah dan kajian teoretis,” ungkap Gunawan di sela acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Hilirisasi Inovasi Sains untuk Program Makan Bergizi Gratis Berkelanjutan bersama alumni dan akademisi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jumat, 15 Mei 2026.
Program BGN Goes to Campus tidak berhenti pada forum diskusi. BGN melibatkan mahasiswa KKN sebagai agen edukasi MBG di masyarakat.
Mahasiswa akan mendapatkan pelatihan dan materi edukasi sebelum diterjunkan ke lapangan.
“Tetapi juga kita akan melibatkan misalnya mahasiswa UNIMUS nantinya akan turun ke KKN, pada saat KKN itu kita akan latih, kita akan berikan pembekalan, misalnya TOT (Training of Trainers). Kemudian nanti harapannya itu bisa menjadi agen edukasi ketika mereka turun di masyarakat menyampaikan bagaimana sih sebenarnya program MBG yang baik dan selama ini yang dilakukan,” imbuhnya.
Menurut Gunawan, keterlibatan mahasiswa penting untuk memastikan informasi terkait MBG tersampaikan secara benar di masyarakat.
“Karena yang menjadi persoalan itu adalah bagaimana menyampaikan informasi yang benar. Nah, ini yang kami harapkan. Jadi, keterlibatan kampus dalam kegiatan misalnya MBG Goes to Campus itu akan sangat penting buat kami,” kata Gunawan.
Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Masrukhi, menyatakan Unimus memiliki dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah berjalan dan siap mendukung program BGN.

“Universitas Muhammadiyah Semarang dengan potensi yang ada, memberikan support secara penuh untuk keberlanjutan program Badan Gizi Nasional ini. Termasuk juga nanti ada MBG Goes to Campus di Universitas Muhammadiyah Semarang,” ujarnya.
BGN menyebut program MBG telah menjangkau 62,35 juta penerima manfaat, mulai dari pelajar, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.
Anggota Komisi IX DPR RI, Edi Wuryanto dari Fraksi PDIP, yang hadir dalam diskusi tersebut, menyatakan mahasiswa dan dosen dapat melakukan penelitian terkait program MBG.
"Mahasiswa boleh meneliti, dosen boleh meneliti, bahkan nanti ada KKN tematik sehingga anak-anak belajar bagaimana mengedukasi masyarakat yang sesungguhnya. Program ini niatnya luhur, ingin SDM kita sehat dan cerdas."
Edi Wuryanto menegaskan akan terus mengawasi peningkatan kualitas program MBG.
“Nah, kami terus mengawasi soal kualitas dapur. Karena BGN bekerja keras sampai 62 juta penerima manfaat dalam waktu setahun. Itu kerja berat dalam waktu setahun ya. Oleh karena itu, kuantitas ini harus diikuti dengan kualitas sehingga kami tetap meminta setiap SPPG harus memenuhi standarisasi quality assurance.”
“Nah kedepan ini akan dilakukan oleh BGN agar kasus-kasus kualitas makanan itu terjaga dengan baik. SPPG yang nakal, tindak aja. Itu bagian dari tanggung jawab kerja sama dengan pemerintah.”
Secara nasional, terdapat lebih dari 28 ribu unit SPPG. Sebanyak 18 ribu dapur SPPG baru juga akan segera beroperasi.
Di Jawa Tengah, BGN mencatat 4.412 unit dapur SPPG dengan estimasi perputaran dana mencapai Rp168 miliar per hari.










